BAGIAN PUTIH PAPAN TULIS ITU MASIH LUAS

HomeOpini / Artikel

BAGIAN PUTIH PAPAN TULIS ITU MASIH LUAS

QIYAS SEBAGAI ALTERNATIF HUKUM SETELAH AL-QURAN, HADITS DAN IJMA’
Tidak Saatnya Masyarakat Mengkonsumsi Berita Provokatif — Masyarakat Butuh Program Nyata dan Konkret untuk Pembangunan
Surat Cinta untuk Kampar: Karena Pembangunan Bermula dari Hati

BAGIAN PUTIH PAPAN TULIS ITU MASIH LUAS
Oleh: Erman Gani

Seorang qariah dipanggil MC tampil membaca ayat suci Al-Qur’an pada sebuah akad perkawinan. Lantunan ayat-ayat suci menggema lembut, menyelimuti seisi tenda dengan ketenangan yang sulit dilukiskan. Hadirin larut dalam suasana khidmat, setiap huruf yang terucap terasa sejuk, menyiram qalbu seperti embun pagi yang menenangkan jiwa.

Ayat yang dibacakan adalah dari Surat Ar-Rum ayat 21. Sebuah ayat yang sarat makna tentang hakikat pernikahan. “Bahwa di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah Dia menciptakan pasangan hidup dari jenis kita sendiri, agar kita cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dari hubungan itu lahir kasih sayang dan cinta yang tulus.”

Tak lama setelah qariah menyelesaikan bacaannya, prosesi utama akad nikah pun dimulai. Seorang penghulu mengambil alih. Wali dan mempelai laki-laki melaksanakan ijab qabul dengan lancar, penuh ketegasan dan keikhlasan. Kalimat sakral itu mengikat dua insan dalam satu ikatan suci.

Alhamdulillah, apa yang telah direncanakan keluarga sejak lama akhirnya diijabah oleh Allah SWT.

Suasana terasa begitu syahdu, penuh haru dan kebahagiaan. Sebuah awal yang indah bagi perjalanan panjang rumah tangga.

Setelah prosesi selesai, saya pun diminta tuan rumah untuk memberikan tausiah dan nasihat perkawinan.

Suatu penghargaan yang saya terima dengan rasa hormat. Hadirin tetap duduk tenang, seolah tak ingin melewatkan momen akad nikah yang berharga itu.

Saya pun mulai dengan mengulang makna dari ayat yang telah dibacakan tadi. Bahwa tujuan utama pernikahan adalah ketenangan. Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi sebuah jalan menuju ketenteraman jiwa. “Litaskunuu ilaiha” (agar kamu merasa tenang kepadanya).

Matahari pagi masih condong di timur, sinarnya menembus sela-sela tenda berwarna ungu berpadu merah dan putih.

Saya melanjutkan, bahwa dalam rumah tangga, suami isteri harus mampu menciptakan keindahan sendiri. Jangan selalu melihat kebahagiaan orang lain. Seakan pelangi hanya berada di atas kepala mereka. Padahal, pelangi itu juga ada di atas kepala kita. Hanya saja kita sering tidak menyadarinya.

Dalam perjalanan rumah tangga, perselisihan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, perlu dipahami, ketika konflik terjadi, itu bukan berarti cinta telah berakhir. Justru di situlah cinta sedang diuji. Apakah ia mampu bertahan atau akan runtuh.

Jika suatu saat engkau tidak menyukai sebagian sifat pasanganmu, maka bersabarlah. Bukankah masih banyak kebaikan lain yang ia miliki? Jangan fokus pada satu kekurangan hingga melupakan seribu kelebihan.

Ibarat papan tulis yang putih bersih, jika ada satu titik hitam di sudutnya, jangan hanya terpaku pada titik hitam itu. Lihatlah betapa luasnya bagian putih yang masih bersih.

Matahari semakin meninggi, memancarkan cahaya terang yang bersih. Seperti pakaian kedua pengantin yang putih suci. Putih yang melambangkan hati yang bersih, niat yang tulus, dan cinta yang murni.

Seputih itulah cinta mereka di awal perjalanan ini.

Semoga cinta itu tetap terjaga. Tumbuh dalam kesabaran, kuat dalam ujian, dan indah dalam kebersamaan.

Semoga rumah tangga yang dibangun menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

COMMENTS